Registrasi Rashford: Janji Laporta, Akankah Terwujud?

Premier League baru saja usai, La Liga sudah di depan mata. Para pecinta sepak bola tentu tak sabar menyambut gemuruh kompetisi top Eropa. Di Barcelona, euforia menyambut musim baru 2025/2026 terasa begitu kental, apalagi dengan kedatangan Hansi Flick sebagai pelatih dan tentu saja, rekrutan bintang sekelas Marcus Rashford. Namun, di tengah gairah yang membuncah, muncul lagi “drama klasik” yang seolah tak pernah usai: masalah pendaftaran pemain. Kali ini, sorotan utama tertuju pada nasib Registrasi Rashford.
Menjelang laga perdana melawan RCD Mallorca, Barcelona dilaporkan masih memiliki tujuh pemain yang belum bisa didaftarkan. Dua nama paling menyita perhatian adalah Joan Garcia dan, tentu saja, Marcus Rashford. Situasi ini tentu membuat Hansi Flick pusing tujuh keliling. Namun, Presiden Joan Laporta, dengan gaya khasnya, tampil menenangkan. Ia mengklaim hampir 100% yakin bahwa semua masalah ini akan beres tepat waktu. Janji Laporta memang selalu terdengar meyakinkan, tapi rekam jejak buruk di masa lalu membuat kita semua bertanya: benarkah kali ini tidak akan PHP (Pemberi Harapan Palsu) lagi?
Saga Finansial Barcelona: Ujian Tiada Akhir
Masalah pendaftaran pemain bukan hal baru bagi Barcelona. Sejak era pandemi dan krisis finansial yang tak kunjung usai, klub Catalan ini seolah terjebak dalam lingkaran setan Financial Fair Play (FFP) La Liga. Setiap bursa transfer, entah itu mendatangkan pemain baru atau memperpanjang kontrak pemain lama, selalu diiringi drama “palanca” (tuas ekonomi) dan negosiasi menit-menit akhir. Ini bukan sekadar hambatan teknis, tapi sudah menjadi bagian dari identitas Barca di mata dunia, sayangnya, identitas yang kurang sedap dipandang.
Aturan ketat La Liga memang mengharuskan klub untuk menyeimbangkan pengeluaran gaji dengan pendapatan. Jika tidak, pemain baru tidak bisa didaftarkan. Kondisi ini membuat Barcelona harus memutar otak mencari cara kreatif untuk mendapatkan ruang gaji, mulai dari penjualan aset klub hingga restrukturisasi kontrak pemain. Bagi fans, ini adalah ujian kesabaran tahunan yang melelahkan. Setiap transfer baru terasa pahit manis: senang dengan kedatangan bintang, tapi cemas apakah mereka bisa langsung bermain.
Optimisme Joan Laporta yang Menggebu
Di tengah kegelisahan yang melanda Camp Nou, Joan Laporta mencoba menaburkan optimisme. Dalam pertemuan dengan kelompok suporter, ia dengan lantang menyatakan keyakinannya bahwa masalah pendaftaran akan segera tuntas.
“Saya harus memberitahu Anda bahwa saya hampir yakin, hampir yakin, bahwa besok, jika Hansi menginginkannya, Joan Garcia dan Rashford akan bisa bermain,” kata Laporta, seolah ingin menyuntikkan kepercayaan diri. Ia mengakui bahwa prosesnya tidak mudah, menggambarkan perjuangan ini sebagai bagian dari esensi kompetitif Barcelona yang selalu berjuang habis-habisan hingga detik terakhir. Pernyataan ini, di satu sisi, memberikan harapan bagi fans, namun di sisi lain, juga memicu skeptisisme mengingat rekam jejak sang presiden.
Dari Mana Sumber Keyakinan Laporta?
Tentu saja, optimisme Laporta ini bukan tanpa dasar. Barcelona disebut-sebut memiliki beberapa manuver finansial yang sedang diupayakan untuk mengatasi batas gaji La Liga:
- Aturan Cedera Ter Stegen: Untuk kasus Joan Garcia, ada kemungkinan mereka bisa memanfaatkan aturan khusus terkait cedera jangka panjang Marc-Andre ter Stegen. Aturan ini memungkinkan klub untuk mendaftarkan pemain baru jika ada pemain kunci yang absen lama karena cedera, sehingga sebagian gajinya tidak masuk perhitungan FFP untuk sementara.
- Penjualan Francisco Trincao: Dana segar dari penjualan 50% hak Francisco Trincao juga akan sangat membantu. Setiap penjualan pemain, terutama dengan nilai yang lumayan, akan membuka ruang dalam anggaran gaji klub. Ini adalah cara paling konvensional untuk mengamankan likuiditas.
- Garansi Bank Dewan Direksi: Klub juga memiliki garansi bank senilai 7 juta Euro dari dewan direksi. Garansi ini bisa digunakan sebagai jaminan untuk menutupi selisih dalam batasan gaji, menunjukkan komitmen finansial dari jajaran manajemen.
- Pembaruan Kontrak Jules Kounde: Pembaruan kontrak beberapa pemain kunci, seperti Jules Kounde, juga dirancang untuk memberikan ruang tambahan dalam perhitungan gaji. Seringkali, perpanjangan kontrak disertai dengan restrukturisasi gaji yang menyebar beban pembayaran selama beberapa tahun, sehingga mengurangi dampak FFP di musim berjalan.
Semua strategi ini, jika berhasil dieksekusi, bisa menjadi solusi bagi masalah pendaftaran pemain. Namun, “jika berhasil” adalah kata kunci yang seringkali menjadi batu sandungan bagi Barcelona.
Sejarah Buruk yang Terus Menghantui: Deja Vu Musiman
Inilah bagian yang membuat janji Laporta terasa seperti “Janji Surga” yang belum tentu terwujud. Barcelona memiliki sejarah buruk yang sama sekali tidak membanggakan dalam urusan pendaftaran pemain. Masalah serupa telah menjadi tema yang terus berulang dalam empat musim panas terakhir, menciptakan trauma tersendiri bagi para penggemar.
- Drama Musim Panas 2021: Puncak dari semua drama ini adalah kepergian Lionel Messi yang dramatis. Messi, yang sudah setuju dengan pemotongan gaji signifikan, tidak bisa didaftarkan karena Barca tak memiliki ruang gaji yang cukup. Ini menjadi tamparan keras bagi klub dan fans.
- Bursa Transfer 2022: Nama-nama besar seperti Robert Lewandowski, Raphinha, Franck Kessie, Andreas Christensen, dan Jules Kounde baru bisa didaftarkan di menit-menit akhir, bahkan beberapa jam sebelum laga perdana. Kounde, misalnya, harus absen di pertandingan pertama karena pendaftarannya tertunda.
- Musim Panas 2023: Situasi serupa juga terjadi. Beberapa pemain, baik rekrutan baru maupun pemain yang kembali dari pinjaman, harus menunggu hingga detik-detik terakhir untuk bisa bermain. Dani Olmo dan Pau Victor bahkan melewatkan pertandingan karena isu yang sama.
Rekam jejak ini membuat setiap pernyataan optimistis dari Laporta selalu disambut dengan campuran harapan dan kecurigaan. Para penggemar tentu berharap drama tahunan ini tidak kembali terulang di era Hansi Flick, apalagi dengan kehadiran pemain sekaliber Marcus Rashford yang sangat dinantikan.
Marcus Rashford: Bintang Baru di Tengah Badai Ketidakpastian
Bagi Hansi Flick, memiliki Marcus Rashford dalam skuadnya adalah anugerah. Rashford membawa kecepatan, naluri gol, dan pengalaman bermain di level tertinggi. Ia adalah aset krusial untuk lini serang yang sedang dibangun Flick. Bayangkan kekecewaan jika pada laga perdana sang pelatih tidak bisa memainkan bintang barunya karena masalah administrasi. Ini bukan hanya merugikan tim secara teknis, tapi juga bisa merusak moral pemain dan kepercayaan fans.
Ketidakpastian **Registrasi Rashford** ini tentu menjadi dilema besar bagi Flick. Bagaimana ia bisa merancang taktik dan formasi terbaik jika ia tidak tahu siapa saja pemain yang bisa diturunkan? Persiapan pra-musim yang telah dilakukan bisa jadi sia-sia jika daftar pemain yang tersedia berubah di menit-menit terakhir. Ini adalah tantangan adaptasi yang tidak diharapkan bagi pelatih baru di klub besar.
Menuju Laga Perdana Melawan Mallorca
Laga perdana La Liga melawan RCD Mallorca akan menjadi ujian pertama bagi Barcelona di musim baru. Meski Mallorca mungkin bukan lawan terberat, setiap poin di awal musim sangat berharga. Absennya pemain kunci seperti Marcus Rashford tentu akan mengurangi kekuatan ofensif tim dan memberikan keuntungan moral bagi lawan. Sebuah awal yang mulus sangat dibutuhkan untuk membangun momentum dan kepercayaan diri di bawah kepemimpinan Hansi Flick.
Akankah Janji Laporta Terwujud?
Pada akhirnya, nasib Registrasi Rashford dan pemain lainnya ada di tangan manajemen Barcelona dan otoritas La Liga. Joan Laporta telah melontarkan janjinya, menyuntikkan optimisme yang dibutuhkan. Namun, pengalaman pahit di masa lalu membuat kita semua tetap harus berhati-hati.
Pertandingan melawan Mallorca akan menjadi tolok ukur. Jika Rashford dan pemain lain berhasil didaftarkan dan tampil, itu akan menjadi bukti bahwa Laporta berhasil menepati janjinya, setidaknya untuk kali ini. Namun, jika drama ini berulang, maka “Janji Surga” Laporta mungkin akan kembali berakhir dengan “PHP” yang menyakitkan bagi para Culers. Yang jelas, saga finansial Barcelona ini sepertinya masih akan menjadi “hiburan” wajib setiap bursa transfer, entah sampai kapan.





Tinggalkan Balasan