Guardiola Menangis untuk Gaza, Seluruh Tubuh Saya Sakit

Bukan Tentang Politik, Ini Tentang Kehidupan
Skorakhir – Hari itu seharusnya menjadi momen penuh kehormatan bagi Pep Guardiola, pelatih legendaris Manchester City. Pada Senin, 9 Juni 2025, ia menerima gelar kehormatan dari Universitas Manchester, sebuah pengakuan atas prestasi luar biasa bersama klub biru langit, sekaligus atas kontribusinya melalui Yayasan Guardiola Sala yang banyak membantu kaum marginal.
Namun, sorotan bukan tertuju pada trofi. Bukan pada taktik. Dan bukan pula pada kehebatan Guardiola di pinggir lapangan.
Semua berubah ketika Guardiola mulai berbicara. Bukan tentang sepak bola. Tapi tentang Gaza.
“Seluruh Tubuh Saya Sakit”
“Sungguh menyakitkan melihat apa yang kami lihat di Gaza. Seluruh tubuh saya sakit,” ucap Guardiola, suaranya parau dalam video pidato yang viral di media sosial, dikutip dari Al Jazeera.
Ia menunduk sejenak. Kemudian melanjutkan, “Ini bukan tentang ideologi. Bukan tentang apakah saya benar dan Anda salah. Ini tentang kehidupan. Tentang kepedulian terhadap sesama manusia.”
Seruan untuk Dunia yang Diam
Guardiola tak sedang bermain aman. Ia berbicara di depan publik akademis. Namun pesannya jelas: jangan diam.
“Mungkin kita pikir itu bukan urusan kita. Tapi hati-hati, anak-anak berikutnya bisa saja jadi urusan kita,” ucapnya dengan nada tinggi.
Ia menyebutkan tiga nama yang membuat hadirin hening: Maria, Marius, dan Valentina — anak-anaknya sendiri. “Setiap pagi sejak mimpi buruk itu dimulai, aku melihat bayi-bayi di Gaza, dan aku sangat takut.”
Gaza yang Luka dan Dunia yang Buta
Sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, Gaza menjadi neraka terbuka. Blokade Israel atas bahan pangan, obat, hingga bantuan medis telah mendorong Gaza ke jurang kelaparan. Dari 2,3 juta penduduknya, setengah adalah anak-anak.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 17.400 anak telah tewas — 15.600 di antaranya telah teridentifikasi. Dan sisanya? Diduga masih terkubur di reruntuhan.
Burung Kecil dan Api Besar
Di tengah tangis Gaza, Guardiola menyampaikan sebuah alegori. Tentang seekor burung kecil yang melawan kebakaran hutan dengan membawa setetes air dari laut. Sia-sia, kata ular. Tapi burung itu menjawab: “Aku hanya melakukan bagianku.”
“Burung itu tahu ia tidak akan memadamkan api, tapi ia menolak untuk tidak berbuat apa-apa,” ucap Guardiola. “Dan mungkin kita semua di ruangan ini, kita semua di dunia ini, bisa jadi burung kecil itu.”
Dari Catalonia hingga Gaza
Ini bukan pertama kali Guardiola bersuara soal ketidakadilan. Ia pernah denda £20.000 karena memakai pita kuning untuk mendukung politisi Catalan yang dipenjara. Ia juga pernah turun ke jalan dalam unjuk rasa kemerdekaan Catalonia pada 2017.
Kini, ia berbicara untuk Gaza. Untuk anak-anak yang bahkan tak tahu mengapa mereka dibom.
Trofi dan Luka: Dua Sisi Guardiola
Selama sembilan tahun di Manchester City, Guardiola mengangkat 18 trofi — prestasi yang mengantarkannya menerima gelar kehormatan dari Universitas Manchester. Namun, hari itu, ia meninggalkan podium dengan satu warisan lain: pesan moral dan luka nurani.
Ia bukan hanya pelatih. Ia adalah suara yang menolak untuk diam.






